Cara Menumbuhkan Minat Baca di Era Media Sosial, Mulai dari Kebiasaan Sederhana

Bagaimana cara kita membiasakan suka membaca?

Pooc.org – Coba perhatikan kebiasaan kita ketika sedang memiliki waktu luang. Tangan mungkin lebih cepat membuka media sosial, lalu mulai menggulir layar dari satu video ke video berikutnya. Satu video selesai, muncul video lain. Begitu seterusnya sampai tanpa terasa waktu sudah berlalu cukup lama.

Kondisi seperti ini sebenarnya tidak aneh. Media sosial memang dirancang untuk menyajikan berbagai hal secara cepat dan menarik. Namun, di tengah kebiasaan menikmati konten singkat tersebut, ada satu kebiasaan yang jangan sampai ikut hilang, yaitu membaca.

Membaca membutuhkan sedikit lebih banyak perhatian dibandingkan sekadar menonton video pendek. Namun, dari sanalah kita bisa mendapatkan informasi yang lebih utuh, mengenal sudut pandang baru, memperkaya kosakata, sekaligus melatih diri untuk memahami sesuatu secara lebih mendalam.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan minat baca di tengah kebiasaan menggunakan media sosial? Tidak harus dengan cara yang sulit. Justru, semuanya bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana.

Kenapa Membaca Itu Penting?

Membaca bukan sekadar kegiatan melihat rangkaian kata di atas kertas atau layar. Ketika membaca, kita sebenarnya sedang mengajak pikiran untuk bekerja memahami informasi, menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain, kemudian membentuk pemahaman sendiri.

UNESCO memandang literasi bukan hanya sebagai kemampuan teknis untuk membaca dan menulis. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan membangun makna, belajar, berpikir kritis, serta menikmati proses membaca dan belajar.

Manfaat lainnya juga terasa dalam kehidupan sehari-hari. Membaca dapat membantu seseorang menemukan pengetahuan baru, memperluas wawasan, dan memperkaya kemampuan berbahasa. UNICEF, misalnya, menyebut bahwa kecintaan terhadap membaca dapat membuka jalan menuju pengalaman belajar baru sekaligus membantu perkembangan bahasa dan kosakata.

Ada hal lain yang tidak kalah penting. Membaca membuat kita tidak hanya menerima informasi, tetapi punya kesempatan untuk berhenti sejenak dan memikirkannya. Kita bisa bertanya, “Benarkah informasi ini?”, “Apa maksud penulisnya?”, atau “Apakah ada sudut pandang lain?”

Kebiasaan seperti inilah yang semakin berharga di tengah derasnya arus informasi di internet.

Mengapa Minat Baca Bisa Kalah oleh Media Sosial?

Masalahnya bukan karena media sosial selalu buruk dan membaca selalu lebih baik. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Video pendek cocok ketika kita ingin mencari hiburan atau mendapatkan gambaran singkat mengenai suatu hal. Namun, untuk memahami topik yang rumit, membaca artikel, buku, atau sumber yang lebih lengkap sering kali memberikan ruang yang jauh lebih luas.

Media sosial juga menawarkan sesuatu yang sangat menggoda: kecepatan. Kita tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Setelah satu konten selesai, konten berikutnya sudah menunggu. Kebiasaan ini bisa membuat membaca beberapa halaman buku terasa jauh lebih lambat.

Padahal, membaca memang tidak dirancang untuk selalu cepat.

Ada kalanya kita justru perlu membaca perlahan, mengulang kalimat yang belum dipahami, mencatat hal penting, atau berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang baru saja dibaca.

Karena itu, solusinya bukan harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memberikan ruang bagi membaca agar tidak selalu kalah oleh kebiasaan scrolling.

Cara Menumbuhkan Minat Baca

Menumbuhkan minat baca tidak harus dimulai dengan target membaca puluhan buku. Kalau selama ini membaca saja terasa berat, target yang terlalu tinggi malah bisa membuat kita cepat menyerah.

Cobalah memulainya dengan beberapa cara berikut.

1. Mulai dari Bacaan yang Memang Disukai

Tidak ada aturan bahwa membaca harus selalu buku pelajaran, buku pengembangan diri, atau karya sastra yang tebal.

Kalau menyukai sepak bola, bacalah artikel atau buku tentang sepak bola. Jika tertarik dengan teknologi, cari bacaan mengenai perkembangan teknologi. Kalau senang dengan cerita, novel, cerpen, komik, atau novel grafis bisa menjadi pilihan awal.

Yang terpenting adalah menemukan bacaan yang membuat kita penasaran.

UNICEF juga menekankan pentingnya mengikuti minat pembaca. Bahkan ketika seseorang baru tertarik membaca komik atau novel grafis, hal tersebut tetap dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan membaca.

Jadi, tidak perlu terlalu sibuk memikirkan apakah bacaan kita cukup “berat”. Untuk menumbuhkan minat, yang penting adalah mulai membaca terlebih dahulu.

2. Tidak Perlu Langsung Membaca Banyak

Salah satu kesalahan ketika ingin mulai rajin membaca adalah membuat target yang terlalu tinggi.

Misalnya, baru mulai membaca tetapi langsung menetapkan target satu buku dalam seminggu. Ketika target tersebut tidak tercapai, muncul perasaan gagal. Akhirnya buku kembali diletakkan di meja dan kebiasaan membaca berhenti begitu saja.

Padahal, membaca lima atau sepuluh halaman sehari pun tetap merupakan kemajuan.

Bahkan membaca selama 10–15 menit dapat menjadi awal untuk membangun ketertarikan terhadap bacaan. UNICEF juga menggunakan durasi tersebut sebagai contoh waktu singkat yang dapat membantu menumbuhkan ketertarikan membaca pada anak.

Jangan mengejar banyaknya halaman terlebih dahulu. Bangun kebiasaannya, kemudian biarkan jumlah bacaan bertambah dengan sendirinya.

3. Kurangi Sedikit Waktu Scrolling

Tidak perlu langsung menghapus semua aplikasi media sosial.

Cukup coba mengambil kembali sebagian kecil waktu yang biasanya digunakan untuk scrolling. Misalnya, dari 30 menit bermain media sosial, sisihkan 10 menit untuk membaca.

Sepuluh menit mungkin terlihat sebentar. Namun, jika dilakukan setiap hari, dalam satu bulan kita sudah memiliki banyak waktu yang digunakan untuk membaca.

Harvard Business Review juga menyarankan memanfaatkan waktu-waktu kecil untuk membaca, termasuk ketika sedang menunggu atau berada dalam situasi yang biasanya membuat seseorang mengambil ponsel. Beberapa halaman yang dibaca sedikit demi sedikit tetap akan terkumpul.

Jadi, ketika sedang menunggu teman datang atau antre di suatu tempat, sesekali cobalah membuka buku atau artikel, bukan membuka media sosial.

4. Jadikan Membaca sebagai Rutinitas

Minat baca akan lebih mudah tumbuh ketika membaca sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Pilih waktu yang paling memungkinkan. Bisa setelah sarapan, sebelum tidur, ketika perjalanan, atau pada waktu tertentu yang memang sengaja disediakan untuk membaca.

Tidak perlu terlalu lama. Lima belas menit yang dilakukan secara konsisten jauh lebih realistis daripada dua jam membaca yang hanya dilakukan sebulan sekali.

Lama-kelamaan, otak akan mengenali waktu tersebut sebagai waktu membaca. Dari yang awalnya terasa seperti kewajiban, aktivitas tersebut bisa berubah menjadi kebiasaan yang justru dicari.

5. Manfaatkan Teknologi untuk Membaca

Smartphone memang sering menjadi sumber gangguan, tetapi perangkat yang sama juga sebenarnya bisa menjadi sarana membaca.

Kita bisa memanfaatkannya untuk membaca buku digital, artikel, berita, jurnal populer, atau berbagai bahan bacaan lainnya. Dengan begitu, teknologi tidak hanya digunakan untuk menonton video pendek dan menggulir media sosial.

Anda juga bisa membaca dari sumber-sumber kredibel seperti Cesna.id. Di sana bukan hanya membahas artikel berita saja, tapi juga terdapat beragam materi pendidikan dan pengetahuan yang penting untuk dipelajari.

Cobalah mengubah sebagian fungsi ponsel dari alat untuk menghabiskan waktu menjadi alat untuk mengisi waktu.

Tidak harus selalu membaca buku fisik. Yang penting adalah memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berinteraksi dengan bacaan yang berkualitas.

Jadikan Membaca sebagai Kebiasaan, Bukan Kewajiban

Ada perbedaan besar antara membaca karena terpaksa dan membaca karena ingin tahu.

Jika membaca selalu dianggap sebagai kewajiban, kita mungkin hanya sibuk menghitung berapa halaman yang sudah selesai. Sebaliknya, ketika membaca dilakukan karena penasaran, kita justru bisa lupa bahwa sudah cukup lama duduk membaca.

Karena itu, jangan terlalu keras kepada diri sendiri ketika sedang membangun minat baca.

Tidak cocok dengan sebuah buku? Cari buku lain. Bosan membaca buku yang tebal? Coba artikel yang lebih pendek. Sulit memahami suatu topik? Cari bacaan yang menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana.

Tujuannya bukan membuktikan bahwa kita mampu menyelesaikan sebanyak mungkin buku. Tujuannya adalah membuat membaca terasa dekat dan menyenangkan.

Tidak perlu membaca satu buku hari ini. Satu halaman saja sudah cukup untuk memulai. Sebab, kebiasaan besar hampir selalu berawal dari langkah yang sederhana.

Artikel terkait